<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Blueseafer&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://blueseafer.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blueseafer.wordpress.com</link>
	<description>Usaha adalah Hasil !!!!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 15 Jan 2012 19:10:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='blueseafer.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Blueseafer&#039;s Blog</title>
		<link>http://blueseafer.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://blueseafer.wordpress.com/osd.xml" title="Blueseafer&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://blueseafer.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Nasib Duyung di Indonesia</title>
		<link>http://blueseafer.wordpress.com/2011/05/10/nasib-duyung-di-indonesia/</link>
		<comments>http://blueseafer.wordpress.com/2011/05/10/nasib-duyung-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 May 2011 09:08:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blueseafer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Biota Langka]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blueseafer.wordpress.com/?p=99</guid>
		<description><![CDATA[IUCN (International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources, Serikat Antarbangsa bagi Konservasi Alam) mengklasifikasikan duyung sebagai spesies hewan yang terancam punah dan CITES melarang atau mengharamkan perdagangan barang-barang produksi yang dihasilkan dari hewan ini. Duyung menjadi hewan buruan selama beribu-ribu tahun karena daging dan minyaknya. Kawasan penyebaran dugong semakin berkurangan, dan populasinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=99&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2011/05/10-warga-ende-heboh-air-mata-ikan-duyung.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-100" title="10.Warga-Ende-Heboh-Air-Mata-Ikan-Duyung" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2011/05/10-warga-ende-heboh-air-mata-ikan-duyung.jpg?w=168&#038;h=126" alt="" width="168" height="126" /></a><a title="International Union for Conservation of Nature" href="http://id.wikipedia.org/wiki/International_Union_for_Conservation_of_Nature">IUCN</a> (<em>International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources</em>, Serikat Antarbangsa bagi Konservasi Alam) mengklasifikasikan duyung sebagai spesies hewan yang terancam punah dan <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/CITES">CITES</a> melarang atau mengharamkan perdagangan barang-barang produksi yang dihasilkan dari hewan ini. Duyung menjadi hewan buruan selama beribu-ribu tahun karena <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daging">daging</a> dan <a title="Minyak" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak">minyaknya</a>. Kawasan penyebaran dugong semakin berkurangan, dan populasinya semakin menghampiri kepunahan. Walau pun spesies ini dilindungi di beberapa negara, penyebab utama penurunan populasinya di antaranya ialah karena pembukaan lahan baru, perburuan, kehilangan habitat serta kematian yang secara tidak langsung disebabkan oleh aktivitas nelayan dalam menangkap ikan. Duyung bisa mencapai usia hingga 70 tahun atau lebih, serta dengan angka kelahiran yang rendah yang mengancam menurunnya <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Populasi">populasi</a> duyung.</p>
<p>Sedikit informasi ilmiah yang tersedia pada kelimpahan, distribusi dan perilaku dugong (Duyung) di perairan Indonesia. Sebagian besar informasi didapatkan dari hasil wawancara dan survei snorkeling, dan catatan insidental (Perrin et al 1996.). Salm et al. (1982) (dalam Nishiwaki &amp; Marsh 1985) menilai bahwa keberadaan duyung di Indonesia sangat sedikit. Pada 1970-an, populasi dugong di Indonesia diperkirakan sekitar 10.000 dan pada tahun 1994, populasi diperkirakan sekitar 1.000. Kedua perkiraan populasi dugaan tersebut dapat dijadikan sebagai bukti penurunan terhadap populasi duyung yang terdapat di Indonesia.</p>
<p>Menurut Suwelo &amp; Ginting (pers comm. 2000), daerah di mana duyung telah diamati dalam wilayah Indonesia meliputi perairan pesisir :</p>
<p>• Sumatra (Riau, Kepulauan Bangka dan Belitung</p>
<p>• Jawa (Taman Nasional Ujung Kulon, pantai Cilegon, pantai Labuhan, selatan Cilacap, Segara Anakan, tenggara Blambangan)</p>
<p>• Kalimantan (Teluk Balikpapan, Kotawaringin, Cadangan Karimata Pulau Laut, Teluk Kumai, Pulau Derawan)</p>
<p>• Sulawesi (utara &#8211; Arakan Wawontulap, Pulau Bunaken; pusat – Laut Kepulauan Togian ; pantai tenggara dan selatan &#8211; Taman Nasional Laut Wakatobi dan Taka Bonerate)</p>
<p>• Bali (pantai selatan Bali, Uluwatu dan Padang-padang)</p>
<p>•Nusa Tenggara Timur (NTT) (Sikka, Semau, Sumba, Kepulauan Lembata dan Flores, Laut Teluk Kupang dan Taman Nasional Komodo)</p>
<p>• Maluku (Kepulauan Aru (termasuk Aru Tenggara Marine cadangan), Sewa Islands (Haruku, Saparua, Nusa Laut, Seram, dan selatan Halmahera (Syamsudin pers comm. 2001))</p>
<p>• Papua Barat (Biak Island &#8211; Kepulauan Padaido, Sorong, pantai Fakfak, Cendrawasih Teluk Taman Nasional Laut dan Taman Nasional Wasur).</p>
<p>Pada Taman Laut Nasional Teluk Cendrawasih di Papua Barat, yaitu taman laut terbesar di Asia Tenggara (Putrawidjaja 2000) tercatat 13 duyung di pantai barat taman selama survei udara pada tahun 1982. Pada pelayaran penelitian ilmiah, sebuah populasi duyung jarang telah diamati disekitar utara Papua Barat (Syamsudin pers comm 2001.).</p>
<ul>
<li><strong>Faktor penyebab penurunan populasi duyung di Indonesia :</strong></li>
</ul>
<p>Tanaman Lamun merupakan makanan utama duyung, ketersediaan lamun di alam menjadi faktor penentu perkembangan kehidupan duyung. LIPI (1997) memperkirakan bahwa total luas padang lamun di Indonesia adalah sekitar 30.000 km2. Penebangan, kebakaran hutan, limbah pertanian, erosi tanah, polusi dan pembangunan pesisir menyebabkan penurunan jumlah habitat lamun.</p>
<p>Pengerukan perairan pantai mengancam daerah makan duyung, khususnya di Sumatera, Jawa dan Bali dimana kepadatan penduduk tergolong tinggi. Pencemaran perairan juga merupakan penyebab penurunan populasi duyung. Logam berat terakumulasi pada daun lamun yang merupakan makanan bagi ikan duyung. Contoh kasus terdapat di Cilegon dan Teluk Jakarta, lamun terdekat daerah perkotaan memiliki konsentrasi berat logam tertinggi.</p>
<p>Di Papua Barat, penebangan dan pertambangan merupakan ancaman yang signifikan untuk padang lamun dan habitat laut lainnya. Misalnya, di Teluk Cendrawasih Taman Nasional Laut, Papua Barat, duyung jarang ditemukan karena sebagian besar habitat mereka telah dihancurkan oleh deforestasi yang disebabkan sedimentasi. Di Sulawesi utara,terdapat pembangunan hotel dan pusat perbelanjaan pada wilayah pesisir kota Manado. Hal ini tentu saja memiliki dampak negative terhadap pertumbuhan  padang lamun yang terdapat pada Taman Nasional Laut Pulau Bunaken (Mandagi pers comm. 2001).</p>
<p>Perburuan duyung, penangkapan ikan mengunakan jaring pukat dan bahan peledak serta bahan-bahan beracun, dan aktivitas nelayan yang tidak bertanggung jawab juga merupakan factor penyebab penurunan populasi duyung di Indonesia.</p>
<ul>
<li>Peraturan pemerintah daerah (Perda) untuk melindungi duyung dan habitatnya:</li>
</ul>
<p>• UU Kehutanan No.5/1976</p>
<p>• UU Perikanan No.9/1985</p>
<p>• Keanekaragaman Hayati dan UU Konservasi Ekosistem No.5/1990</p>
<p>• Karantina Undang-Undang No.16/1992</p>
<p>• Konvensi Keanekaragaman Hayati UU No.5/1995</p>
<p>• UU No.23/1997 Pengelolaan Lingkungan</p>
<p>• Pemerintah Daerah UU No.22/1999 Pengaturan kelembagaan untuk mengelola dugong<br />
perlindungan berada di bawah Direktorat Jenderal Alam Konservasi &#8211; Departemen Kehutanan.</p>
<p>Namun, karena 2001, Departemen Kehutanan telah mengembangkan nota kesepahaman yang  mengakibatkan kewenangan pengelolaan berpindah tangan ke Departemen Kelautan dan Perikanan. Pengelolaan enam taman nasional laut, termasuk Kepulauan Seribu &#8211; (Daerah Khusus Ibukota, Jakarta ); DKI Karimun (Jawa Tengah), Bunaken (North Sulawesi), Wakatobi (Sulawesi Tenggara); Taka Bonerate (Sulawesi Selatan) dan Teluk Cendrawasih (Papua Barat).</p>
<ul>
<li><strong>Kesimpulan</strong><strong></strong></li>
</ul>
<p>• Populasi duyung di Indonesia tergolong langka dan terancam punah.</p>
<p>• Penyebab penurunan jumlah populasi di akibatkan oleh perburuan duyung, degradasi lamun, pembangunan daerah pesisir dan aktivitas nelayan yang merusak.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blueseafer.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blueseafer.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blueseafer.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blueseafer.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/blueseafer.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/blueseafer.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/blueseafer.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/blueseafer.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blueseafer.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blueseafer.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blueseafer.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blueseafer.wordpress.com/99/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blueseafer.wordpress.com/99/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blueseafer.wordpress.com/99/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=99&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blueseafer.wordpress.com/2011/05/10/nasib-duyung-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5b198057ec1cd5c5ef13ceb743fe33c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">blueseafer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2011/05/10-warga-ende-heboh-air-mata-ikan-duyung.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">10.Warga-Ende-Heboh-Air-Mata-Ikan-Duyung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budidaya Laut</title>
		<link>http://blueseafer.wordpress.com/2010/06/02/budidaya-laut/</link>
		<comments>http://blueseafer.wordpress.com/2010/06/02/budidaya-laut/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jun 2010 07:52:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blueseafer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budidaya Laut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blueseafer.wordpress.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Budidaya laut merupakan suatu  upaya rekayasa lingkungan yang bertujuan untuk menghasilkan suatu komoditas laut ( organisme akuatik pada ekosisem lingkungan laut alami maupun artifisial ) dengan memperkecil energi. Dimulai pada abad 20 di negara Jepang. Alasan dilakukan budidaya : Efektif dan efisien Menghasilkan komoditas yang lebih baik dari segi kualitas dan kuantitas Potensi besar Memberdayakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=88&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/06/keramba.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-95" title="keramba" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/06/keramba.jpg?w=139&#038;h=102" alt="" width="139" height="102" /></a>Budidaya laut merupakan suatu  upaya rekayasa lingkungan yang bertujuan untuk menghasilkan suatu komoditas laut ( organisme akuatik pada ekosisem lingkungan laut alami maupun artifisial ) dengan memperkecil energi. Dimulai pada abad 20 di negara Jepang.</p>
<p>Alasan dilakukan budidaya :</p>
<ul>
<li>Efektif dan efisien</li>
<li>Menghasilkan komoditas yang lebih baik dari segi kualitas dan kuantitas</li>
<li>Potensi besar</li>
<li>Memberdayakan masyarakat</li>
<li>menjaga kelestarian ekosistem di alam</li>
</ul>
<p>Ruang lingkup :</p>
<ul>
<li>Oseanografi</li>
<li>Sosial ekonomi</li>
<li>Manajemen lingkungan</li>
</ul>
<p style="text-align:center;"><span id="more-88"></span></p>
<p>Tahapan budidaya :</p>
<p>1. Pra Budidaya</p>
<ul>
<li>Sumber Daya Manusia</li>
<li>Modal</li>
<li>Pasar</li>
<li> Teknik Budidaya</li>
</ul>
<p>2. Budidaya</p>
<ul>
<li>Monitoring</li>
<li> Pemberian Pakan</li>
<li>Pembibitan</li>
<li>Pembesaran</li>
</ul>
<p>3. Pasca Budidaya</p>
<ul>
<li>Teknik Pemasaran</li>
<li>Manajemen Pemasaran</li>
<li>Evaluasi dan Solusi</li>
</ul>
<p>Teknik Budidaya :</p>
<p>1. Di Alam</p>
<ul>
<li>Keramba Jaring Apung (KJA)</li>
<li>Pagar</li>
<li> Rak Apung/Gantung</li>
<li>Rakit</li>
</ul>
<p>2. Artifisial</p>
<ul>
<li>Kolam</li>
<li>Aquarium</li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blueseafer.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blueseafer.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blueseafer.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blueseafer.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/blueseafer.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/blueseafer.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/blueseafer.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/blueseafer.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blueseafer.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blueseafer.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blueseafer.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blueseafer.wordpress.com/88/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blueseafer.wordpress.com/88/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blueseafer.wordpress.com/88/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=88&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blueseafer.wordpress.com/2010/06/02/budidaya-laut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5b198057ec1cd5c5ef13ceb743fe33c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">blueseafer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/06/keramba.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">keramba</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Apakah ikan tidur ???</title>
		<link>http://blueseafer.wordpress.com/2010/05/12/apakah-ikan-tidur/</link>
		<comments>http://blueseafer.wordpress.com/2010/05/12/apakah-ikan-tidur/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 May 2010 06:23:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blueseafer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dico's Answer !!!!!]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blueseafer.wordpress.com/?p=69</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dwiko Handiko Bowo      230210080058 Jika kita memperhatikan ikan yang kita pelihara di aquarium pada waktu  siang hari, kita melihat ikan tersebut aktif bergerak. Mereka berenang  kesana – kemari  dengan lincahnya, melakukan aktifitas mencari makan di dasar dan di atas permukaan dengan aktifnya dan terlihat seakan – akan sedang  bercanda dengan senangnya. Dari aktivitas [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=69&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong>Oleh : Dwiko Handiko Bowo      230210080058</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/05/ikan-tidur5.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-77" title="Ikan-tidur" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/05/ikan-tidur5.jpg?w=150&#038;h=121" alt="" width="150" height="121" /></a>Jika kita memperhatikan ikan yang kita pelihara di aquarium pada waktu  siang hari, kita melihat ikan tersebut aktif bergerak. Mereka berenang  kesana – kemari  dengan lincahnya, melakukan aktifitas mencari makan di dasar dan di atas permukaan dengan aktifnya dan terlihat seakan – akan sedang  bercanda dengan senangnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dari aktivitas ikan tersebut maka timbul  pertanyaan di benak kita, “ Apakah ikan tersebut tidak lelah, apakah ikan tersebut perlu istirahat, dan apakah ikan tidur ??? ”.</p>
<p style="text-align:center;"><span id="more-69"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Jika anda menjawab “iya, ikan pasti lelah dan perlu tidur”, maka jawaban anda sangatlah tepat karena pada dasarnya, setiap makhluk hidup harus beristirahat dan tidur. Ikan juga perlu beristirahat dan tidur karena jika tidak, ikan bisa menjadi lemah dan bahkan mati. Meski demikian, terdapat perbedaan antara tidur ikan dan manusia, termasuk cara, kapan, dan berapa lama ikan-ikan harus tidur. Saat tidur, ikan juga tidak bisa menutup matanya karena memang hampir semua ikan tidak mempunyai kelopak mata. Kesamaannya hanya pada kebutuhan akan tempat yang aman dan nyaman. Biasanya, ikan tidak tidur di tempat tertentu, misalnya di sarang. Ikan bisa tidur di sebarang tempat, asalkan cocok.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika kebetulan di rumah anda punya akuarium dengan ikan mas atau minow di dalamnya,  perhatikanlah saat ikan-ikan tersebut diam tak bergerak di dasar akuarium pada malam hari. Itulah cara ikan mas dan minow tidur. Mereka beristirahat di malam hari, berbeda dengan serowot yang tidur pada siang hari dan aktif pada malam hari. Ketika tidur, ikan tidak benar-benar terlelap. Ikan masih setengah sadar karena harus waspada dari para pemangsa. Saking waspadanya, riak air kecil pun bisa membangunkannya.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau ikan tidur, gayanya bermacam-macam lho!!!. Ada yang masuk ke tempat persembunyian nya, ada yang tidur sambil bergerak perlahan, ada yang benar-benar diam, kayak patung,dan ada pula yang posisi tidurnya seperti posisi sakit atau mati. Beberapa jenis ikan juga punya perilaku yang unik saat mereka tidur. Ikan baronang misalnya, tidur pada malam hari dengan cara miring di celah bebatuan. Ikan karper eropa tidur malam hari di dalam “taman karang” idamannya, sedangkan ikan sidat gusi tidur di pasir pada siang hari dengan kepala menyembul. Pada malam hari sidat gusi justru berkeliaran mencari pakan. Ada juga ikan yang sebelum tidur, bersiap-siap dulu. Misalnya, ikan kakaktua akan mengeluarkan lendir seperti jeli yang bentuknya mirip kepompong transparan. Lendir itu kemudian menutupi seluruh permukaan tubuhnya. Hal ini di maksudkan agar pada saat tidur ikan kakaktua terlindung dari pemangsanya. Nah, setelah itu barulah ikan kakaktua mulai tidur. Zzzzzzzzzzzzz !!!!!!!!!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blueseafer.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blueseafer.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blueseafer.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blueseafer.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/blueseafer.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/blueseafer.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/blueseafer.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/blueseafer.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blueseafer.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blueseafer.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blueseafer.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blueseafer.wordpress.com/69/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blueseafer.wordpress.com/69/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blueseafer.wordpress.com/69/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=69&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blueseafer.wordpress.com/2010/05/12/apakah-ikan-tidur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5b198057ec1cd5c5ef13ceb743fe33c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">blueseafer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/05/ikan-tidur5.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Ikan-tidur</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>EKOLOGI LAUT TROPIS</title>
		<link>http://blueseafer.wordpress.com/2010/04/14/%ef%81%b6ekologi-laut-tropis/</link>
		<comments>http://blueseafer.wordpress.com/2010/04/14/%ef%81%b6ekologi-laut-tropis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 13:05:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blueseafer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marine Ecology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blueseafer.wordpress.com/?p=56</guid>
		<description><![CDATA[Ekologi merupakan suatu interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya. Secara singkat ekologi laut tropis dapat diartikan sebagai interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya di wilayah laut tropis. Ekologi laut tropis erat hubungannya dengan lingkungan hidup bahari. Pada lingkungan hidup bahari Laut merupakan penghubung (bukan perintang) bagian bumi  yang merupakan sumber bahan makanan untuk melengkapi bahan makanan dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=56&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/04/laut-tropis-indonesia.jpg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-81" title="laut tropis indonesia" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/04/laut-tropis-indonesia.jpg?w=152&#038;h=145" alt="" width="152" height="145" /></a>Ekologi merupakan suatu interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya. Secara singkat ekologi laut tropis dapat diartikan sebagai interaksi makhluk hidup dengan lingkungannya di wilayah laut tropis. Ekologi laut tropis erat hubungannya dengan lingkungan hidup bahari. Pada lingkungan hidup bahari Laut merupakan penghubung (bukan perintang) bagian bumi  yang merupakan sumber bahan makanan untuk melengkapi bahan makanan dari daratan juga sumber mineral, energy fosil (minyakbumi) yang banyak didapatkan dilepas pantai,  sumber energi tidal dan memiliki keanekaragaram yang sangat tinggi, khususnya dilaut tropik: terumbu karang, mangrove.</p>
<p style="text-align:justify;">Karakteristik laut tropis, berdasarkan variasi produktivitas :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Laut Tropis: sinar matahari terus menerus sepanjang tahun (hanya ada dua musim, hujan dan kemarau) ,kondisi optimal bagi produksi fitoplankton dan konstant sepanjang tahun.</li>
<li>Laut Subtropis: intensitas sinar matahari bervariasi menurut musim (dingin, semi, panasdangugur). Tingkat produktifitas akan berbeda pada setiap musim. Pada musim semi: tinggi, sedangkan pada musim dingin: sangat rendah.</li>
<li>Laut Kutub: masa produktifitas sangat pendek (Juli atau Agustus), musim panas: fitoplankton tumbuh.</li>
</ol>
<p style="text-align:center;"><span id="more-56"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Jaring-jaring makanan dan struktur trofik komunitas pelagik berbeda pada tiga daerah geografik (lauttropik, subtropik, kutub). Secara umum terdiri darialgae,  herbivora, penyaring, predator dan predator tertinggi. Jumlah dan jenis masing – masing tingkat trofik berbeda, yaitu laut tropik yang paling banyak, diikuti oleh laut subtropik dan terakhir lautkutub.</p>
<p style="text-align:justify;">Karakteristik laut tropis, berdasarkan jarring-jaring makanan :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Laut Tropik: predator tertinggi (tuna, lansetfish, setuhuk, hiu sedang dan hiu besar), predator lainnya: cumi-cumi, lumba-lumba.</li>
<li>Laut Subtropik: predator tertinggi (lumba-lumba, anjing laut dan singa laut, paus, burung-burung laut), predator lainnya: salem, cumi-cumi.</li>
<li>Laut Kutub: predator tertinggi (paus), predator lainnya: anjing laut, singa laut.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;"><strong>NICHE</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Konsep relung (niche) dikembangkan oleh Charles Elton (1927) ilmuwan Inggris, <em>Niche atau nicia atau ecological niche</em>, tidak hanya meliputi ruang/tempat yang ditinggali organisme,  tetapi juga peranannya dalam komunitas, dan posisinya pada gradient lingkungan: temperatur, kelembaban, pH, tanah dan kondisi lain. Pengetahuan tentang nicia digunakan sebagai landasan untuk memahami berfungsinya suatu komunitas dan ekosistem dalam habitat utama.</p>
<p style="text-align:justify;">Relung (<em>niche</em>) adalah posisi atau status suatu organisme dalam suatu komunitas dan ekosistem tertentu, yang merupakan akibat adaptasi struktural, tanggap fisiologis serta perilaku spesifik organisme itu. Jadi relung suatu organisme bukan hanya ditentukan oleh tempat organisme itu hidup, tetapi juga oleh berbagai fungsi yang dimilikinya. Dapat dikatakan, bahwa secara biologis, relung adalah profesi atau cara hidup organisme dalam lingkungan hidupnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Suksesi terjadi sebagai akibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem, suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak seimbang menuju ekosistem seimbang. Akhir proses suksesi komunitas yaitu terbentuknya suatu bentuk komunitas klimaks Komunitas klimaks ditandai dengan tercapainya homeostatis atau keseimbangan, yaitu suatu komunitas yang mampu mempertahankan kestabilan komponennya dan dapat bertahan dan berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan. Berdasarkan kondisi habitat pada awal suksesi, dapat dibedakan dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.</p>
<p style="text-align:justify;">Suksesi primer adalah organisme mulai menempati wilayah baru yang belum ada kehidupan contohnya delta. Sedangkan, suksesi sekunder adalah terjadi setelah  komunitas yang ada menderita gangguan yang besar sebagai contoh sebuah komunitas klimaks (stabil) hancur karena terjadinya kebakaran hutan.</p>
<p style="text-align:justify;">Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup pada dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan, seperti cahaya, suhu atau nutrient dalam jumlah minimum dan maksimum. Dalam ekologi tumbuhan factor lingkungan sebagai factor ekologi dapat dianalisis menurut bermacam-macam faktor. Satu atau lebih dari faktor-faktor tersebut dikatakan penting jika dapat mempengaruhi atau dibutuhkan, bila terdapat pada taraf minimum, maksimum atau optimum menurut batas-batas toleransinya. Tumbuhan untuk dapat hidup dan tumbuh dengan baik membutuhkan sejumlah nutrient tertentu (misalnya unsur-unsur nitrat dan fosfat) dalam jumlah minimum. Dalam hal ini unsur-unsur tersebut sebagai factor ekologi berperan sebagai faktor pembatas.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>SIKLUS BIOGEOKIMIA</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Makhluk yang hidup atau mati tersusun oleh materi, materi ini kemudian dimanfaatkan oleh organisme lain untuk hidup apabila salah satu dari makhluk hidup mati rantai makanan ini akan terus berjalan. Dinamakan siklus karena proses rantai makanan yang berlangsung secara terus menerus. Biogeokimia terjadi karena adanya proses perubahan dari biosfer yang hidup dan tak hidup yang menyangkut materi.</p>
<p style="text-align:justify;">Siklus biogeokimia atau siklus organikanorganik adalah siklus unsure atau senyawa kimia yang mengalir dari komponen abiotik ke biotik dan kembali lagi ke komponen abiotik. Siklus ini berfungsi untuk mengembalikan unsur kimia yang telah tepakai. Diketahui ada sekitar 100 unsur kimia di dunia, tapi hanya 30-40% yang sangat diperlukan oleh makhluk hidup. Nutrient masuk ke ekosistem melalui proses weathering, atmospheric input, biological nitrogen fixation, dan immigration. Sedangkan, nutrient keluar dari ekosistem melalui proses erosion, leaching, gaseous losses, emigration dan harvesting.</p>
<p style="text-align:justify;">Siklus biogeokimia terdiri dari beberapa macam siklus, antara lain siklus air, siklus oksigen, siklus karbon, siklus nitrogen, siklus fosfor, dan siklus sulfur. Tetapi bahasan yang akan kita bahas adalah hanya 3 macam siklus yaitu, siklus karbon, siklus nitrogen, dan siklus fosfor.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Siklus  karbon dan oksigen</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Siklus Karbon dan Oksigen merupakan siklus biogeokimia terbesar. Ada tiga hal yang terjadi pada karbon yang pertama karbon tinggal didalam tubuh, kedua karbon di respirasi oleh hewan, ketiga karbon diubah menjadi sampah atau sisa. Sebanyak 45% karbon digunakan untuk pertumbuhan, 45% digunakan untuk proses respirasi dan 10% digunakan untuk DOC. Karbon masuk ke perairan melalui proses difusi. Sumber-sumber CO<sub>2</sub> di atmosfer berasal dari respirasi manusia dan hewan, erupsi vulkanik, pembakaran batubara, dan asap pabrik. Di ekosistem air, pertukaran CO<sub>2</sub> dengan atmosfer berjalan secara tidak langsung. Karbon dioksida berikatan dengan air membentuk asam karbonat yang akan terurai menjadi ion bikarbonat. Bikarbonat adalah sumber karbon bagi alga yang memproduksi makanan untuk diri mereka sendiri dan organisme heterotrof lain. Sebaliknya, saat organisme air berespirasi, CO<sub>2</sub> yang mereka keluarkan menjadi bikarbonat. Jumlah bikarbonat dalam air adalah seimbang dengan jumlah CO<sub>2</sub> di air.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada atmosfer proses timbal balik fotosintesis dan respirasi seluler bertanggung jawab atas perubahan dan pergerakan utama karbon. Naik turunnya CO<sub>2</sub> dan O<sub>2</sub> atsmosfer secara musiman disebabkan oleh penurunan aktivitas Fotosintetik. Dalam skala global kembalinya CO<sub>2</sub> dan O<sub>2</sub> ke atmosfer melalui proses respirasi yang mnghasilkan CO<sub>2</sub> dan proses  fotosintesis yang menghasilkan oksigen. Akan tetapi pembakaran kayu dan bahan bakar fosil menambahkan lebih banyak lagi CO<sub>2</sub> ke atmosfir. Sebagai akibatnya jumlah CO<sub>2</sub> di atmosfer meningkat. CO<sub>2</sub> dan O<sub>2</sub> atmosfer juga berpindah masuk ke dalam dan ke luar sistem akuatik, dimana CO<sub>2</sub> dan O<sub>2</sub> terlibat dalam suatu keseimbangan dinamis dengan bentuk bahan anorganik lainnya.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Siklus      Nitrogen</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Di atmosfir nitrogen (N) jumlahnya hampir mencapai 80%. Bentuk atau komponen N di atmosfir dapat berbentuk ammonia (NH3), molekul nitrogen (N2), dinitritoksida (N2O), nitrogen oksida (NO), nitrogen dioksida (NO2), asam nitrit (HNO2), asam nitrat (HNO3), basa amino (R3-N) dan lain-lain. Nitrogen bebas juga dapat bereaksi dengan hydrogen atau oksigen dengan bantuan kilat/petir (elektrisasi). Tumbuhan memperoleh nitrogen dari dalam tanah berupa ammonia (NH3), ionnitrit (N02-), dan ion nitrat (N03-).</p>
<p style="text-align:justify;">Siklus Nitrogen adalah transfer nitrogen yang melibatkan komponen biotik dan abiotik ,proses awalnya adalah nitrogen yang ada di atmosfer ditransfer ke dalam tanah melalui hujan secara tidak langsung  dan fiksasi nitrogen secara langsung<strong>. </strong>Fiksasi nitrogen secara biologis dapat dilakukan oleh bakteri Rhizobium yang bersimbiosis dengan polong-polongan, bakteri Azotobacter dan Clostridium. Selain itu ganggang hijau biru dalam air juga memiliki kemampuan memfiksasi nitrogen.</p>
<p style="text-align:justify;">Nitrat yang di hasilkan oleh fiksasi biologis digunakan oleh produsen (tumbuhan) diubah menjadi molekul protein. Selanjutnya jika tumbuhan atau hewan mati, mahluk pengurai merombaknya menjadi gas amoniak (NH3) dan garam ammonium yang larut dalam air (NH4+). Proses ini disebut dengan amonifikasi. Bakteri Nitrosomonas mengubah amoniak dan senyawa ammonium menjadi nitrit dan nitrat oleh Nitrobacter. Apabila oksigen dalam tanah terbatas, nitrat dengan cepat ditransformasikan menjadi gas nitrogen atau oksida nitrogen oleh proses yang disebut denitrifikasi.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Siklus      Fosfor</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Di alam, fosfor terdapat dalam dua bentuk, yaitu senyawa fosfat organik (pada tumbuhan dan hewan) dan senyawa fosfat anorganik (pada air dan tanah). Herbivora mendapatkan fosfat dari tumbuhan yang dimakannya dan karnivora mendapatkan fosfat dari herbivora yang dimakannya. Seluruh hewan mengeluarkan fosfat melalui urin dan feses. Selain itu hewan dan tumbuhan yang mati diuraikan oleh dekomposer (pengurai) menjadi fosfat anorganik. Fosfat anorganik yang terlarut di air tanah atau air laut akan terkikis dan mengendap di sedimen laut. Sehingga, fosfat banyak terdapat di batu karang dan fosil. Fosfat dari batu dan fosil terkikis dan membentuk fosfat anorganik terlarut di air tanah dan laut. Fosfat anorganik ini kemudian akan diserap dari air tanah oleh akar tumbuhan lagi.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>EKOSISTEM</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Ekosistem yaitu suatu system ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara mahluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem terdiri dari komponen yang bekerja secara teratur sebagai suatu kesatuan. Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup dan tak hidup di suatu tempat yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Komponen hidup (biotik) terdiri dari bakteri, plankton, benthos, dan ikan. Sedangkan, komponen tak hidup (abiotik) terdiri dari air, gas dan tanah.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Klasifikasi  komponen ekosistem berdasarkan tingkat makan – memakan :</li>
</ul>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Organisme Autotrophic yaitu organisme yang mampu mensistesis makanannya sendiri yang berupa bahan organik dari bahan – bahan anorganik sederhana dengan bantuan sinar matahari dan zat hijau daun ( klorofil).</li>
<li>Organisme Heterotropic yaitu organisme yang menyusun kembali dan menguraikan bahan – bahan organik kompleks yang telah mati kedalam senyawa anorganik sederhana.</li>
</ol>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Faktor penyebab perbedaan ekosistem, diantaranya :</li>
</ul>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Perbedaan kondisi iklim (hutan hujan, hutan musim, hutan savana)</li>
<li>Perbedaan letak dari permukaan laut, topografi, dan formasi geologik (zonasi pada pegunungan, lereng pegunungan yang curam, lembah sungai)</li>
<li>Perbedaan kondisi tanah dan air tanah (pasir, lempung, basah, kering).</li>
</ol>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Berdasarkan proses terjadinya, ekosistem terbagi menjadi dua macam :</li>
</ul>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ekosistem alam (laut, sungai, hutan alam, danau alam, dan lainnya)</li>
<li>Ekosistem buatan (sawah, kebun, hutan tanaman, tambak, dan bendungan)</li>
</ol>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Tipe ekosistem, terbagi menjadi :</li>
</ul>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ekosistem terestris (daratan)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">•Ekosistem hutan</p>
<p style="text-align:justify;">•Ekosistem padang rumput</p>
<p style="text-align:justify;">•Ekosistem gurun</p>
<p style="text-align:justify;">•Ekosistem anthropogen atau buatan (sawah, kebun, dan lainnya)</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ekosistem akuatik (perairan)</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">•Ekosistem air tawar, misalnya kolam, danau, sungai, dan lainnya</p>
<p style="text-align:justify;">•Ekosistem lautan</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>PENGELOLAAN SUMBER DAYA WILAYAH PESISIR DAN LAUTAN SECARA TERPADU</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Indonesia merupakan negara kepulauan memiliki jumlah pulau sekitar 17.000  pulau dengan wilayah pesisir dan luas laut berturut-turut 3,1 km2 dan ZEE 2,7 km2. Dengan garis pantai 81 km yang memuat habitat pantai yang sangat bervariasi menyimpan beragam potensi sumber daya alam pesisir dan laut seperti terumbu karang, mangrove, lamun, rumput laut, dan ikan dengan jumlah dan keragaman jenis yang sangat melimpah.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Wilayah Pesisir</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Wilayah peralihan antara laut dan daratan, ke arah darat mencakup daerah yang masih terkena pengaruh percikan air laut atau pasang, dan ke arah laut meliputi daerah papaan benuaPerencanaan dan Pengelolaan Wilayah Pesisir Secara Sektoral: oleh satu instansi pemerintah untuk tujuan tertentu misal perikanan, konflik kepentingan Perencanaan Terpadu: mengkoordinasikan mengarahkan berbagai aktivitas kegiatan. Terprogram untuk tujuan keharmonisan, optimal antara kepentingan lingkungan, pembangunan ekonomi dan keterlibatan masyarakat, pengaturan tataruang.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Kerusakan pesisir, meliputi :</li>
</ul>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Estuaria : Laju sedimentasi yang menimbulkan pendangkalan perairan.</li>
<li>Mangrove : Luas wilayah mangrove berkurang 70% selama 7tahun terakhir, akibat :</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">- konversi menjadi tambak udang</p>
<p style="text-align:justify;">- Menjadi bahan bakar atau arang (ekspor banyak dilakukan di                          daerah Riau)</p>
<p style="text-align:justify;">- Penambangan, pembangunan pantai (pemukiman), perkebunan(kelapa sawit), dan pertanian.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Padang lamun : Ekosistem padang lamun Kehilangan 30-40% selama 50 tahun</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">terakhir, akibat :</p>
<p style="text-align:justify;">- reklamasi lahan</p>
<p style="text-align:justify;">- masuknya limbah yang tidak diolah</p>
<p style="text-align:justify;">- pembangunan pelabuhan dan bangunan laut</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Terumbu karang : Eksploitasi sumberdaya perikanan.</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">- pengambilan karang untuk bahan bangunan dan pembuangan limbah.</p>
<p style="text-align:justify;">-  pariwisata dan ledakan populasi yang menjadi pemangsanya.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Lautan dan estuaria</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Lautan merupakan satu kesatuan dari permukaan, kolom air sampai ke dasar dan bawah dasar laut. Di luar batas wilayah teritorial (3 sampai 12 mil) sebagai wilayah laut. Sedangkan, estuaria adalah teluk di pesisir yang sebagian tertutup, tempat air tawar dan air laut bertemu dan bercampur.</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ekosistem terumbu karang</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Luas terumbu karang Indonesia diperkirakan mencapai 60.000 km<sup>2</sup>, namun hanya 6,2% saja yang kondisinya baik. Tekanan terhadap keberadaan terumbu karang sebagian besar diakibatkan oleh kegiatan manusia.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Manfaat terumbu karang, diantaranya :</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">-         Berperan penting bagi pertumbuhan sumberdaya perikanan (sebagai <em>feeding ground, fishing ground, spawning ground and nursery ground)</em></p>
<p style="text-align:justify;">-         Mencegah terjadinya pengikisan pantai (abrasi)</p>
<p style="text-align:justify;">-         Sebagai daya tarik wisata bahari</p>
<p style="text-align:justify;">-         Secara global terumbu karang berfungsi sebagai pengendap kalsium yang mengalir dari sungai ke laut</p>
<p style="text-align:justify;">-         Sebagai penyerap karbondioksida dan Gas Rumah Kaca (GRK) lainnya</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Karang memerlukan kondisi tertentu untuk dapat tumbuh dengan baik seperti :</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">-         Air dengan transparansi tinggi (jernih)</p>
<p style="text-align:justify;">-         Suhu air yang berkisar antara 23 – 32 derajat celcius</p>
<p style="text-align:justify;">-         Kedalaman perairan kurang dari 40 m</p>
<p style="text-align:justify;">-         Salinitas yang berkisar antara 32 – 36 per mil</p>
<p style="text-align:justify;">-         pH 7,5 – 8,5</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Ancaman terhadap terumbu karang, seperti :</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">-         Pencemaran minyak dan industri,</p>
<p style="text-align:justify;">-         Sedimentasi akibat erosi, penebangan hutan, pengerukan dan penambangan karang</p>
<p style="text-align:justify;">-         Peningkatan suhu permukaan laut</p>
<p style="text-align:justify;">-         Buangan limbah panas dari pembangkit tenaga listrik</p>
<p style="text-align:justify;">-         Pencemaran limbah domestik dan kelimpahan nutrien</p>
<p style="text-align:justify;">-         Penggunaan sianida dan bahan peledak untuk menangkap ikan</p>
<p style="text-align:justify;">-         Perusakan akibat jangkar kapal</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Upaya pelestarian terumbu karang dengan cara :</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">-         Mengendalikan/ meminimalkan penambangan karang untuk lahan bangunan</p>
<p style="text-align:justify;">-         Mencegah kegiatan pengerukan atau kegiatan lainnya yang menyebabkan terjadinya endapan</p>
<p style="text-align:justify;">-         Kegiatan transplantasi terumbu karang untuk memulihkan ekosistem terumbu karang yang telah rusak</p>
<p style="text-align:justify;">-         Penyuluhan terhada masyarakat tentang pentingnya peran terumbu karang bagi ekosistem pesisir</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Metode Pengukuran Kondisi Terumbu Karang Berdasarkan Metode Transek Garis :</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">-         Pemilihan tapak, diusahakan pada lereng terumbu dan dapat mewakili terumbu karang tersebut</p>
<p style="text-align:justify;">-         Untuk pemilihan tempat sebaiknya dilakukan dengan metode Manta Towing</p>
<p style="text-align:justify;">-         Dalam pemilihan tapak sekurang-kurangnya harus dilakukan pada 2 tempat</p>
<p style="text-align:justify;">-         Penandaan titik lokasi yang tepat harus dicatat bersamaan dengan pemilihan tempat</p>
<p style="text-align:justify;">-         Sebaiknya gunakan GPS atau kamera photo</p>
<p style="text-align:justify;">-         Tandai tapak dimana akan dilakukan transek dengan paku dan pelampung</p>
<p style="text-align:justify;">-         Untuk setiap tapak dilakukan min.6 transek dengan masing-masing panjang 50 m, pada setiap 2 kedalaman yaitu 3 m dan 10 m</p>
<p style="text-align:justify;">-         Dahulukan transek pertama pada daerah yang miring, kira-kira 3 m di bawah tonjolan terumbu karang</p>
<p style="text-align:justify;">-         Transek kedua diletakkan pada kira-kira 9-10 m di bawah tonjolan terumbu karang</p>
<p style="text-align:justify;">-         Tenaga dan jumlah personel sebaiknya sama untuk setiap pengamatan awal dan saat pengamatan</p>
<p style="text-align:justify;">-         Untuk menghindari terjadinya pergeseran-pergeseran, alat ukur harus selalu berada dekat (0 – 15 m) dengan objek pengamatan dan tetap terkait</p>
<p style="text-align:justify;">-         Setelah pengamatan dinyatakan selesai, lokasi ditandai dengan pelampung/ GPS</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ekosistem padang lamun</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Lamun merupakan tumbuhan berbunga yang hidupnya terbenam di dalam laut, padang lamun ini merupakan ekosistem yang mempunyai produktivitas organik yang  tinggi. Fungsi ekologi yang penting yaitu sebagai <em>feeding ground</em>, <em>spawning ground </em>dan <em>nursery ground</em> beberapa jenis hewan yaitu udang dan ikan baranong, sebagai peredam arus sehingga perairan dan sekitarnya menjadi tenang.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Ancaman terhadap padang lamun, seperti :</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">-         Pengerukan dan pengurugan dari aktivitas pembangunan (pemukiman pinggir laut, pelabuhan, industri dan saluran navigasi)</p>
<p style="text-align:justify;">-         Pencemaran limbah industri terutama logam berat dan senyawa organoklorin</p>
<p style="text-align:justify;">-         Pembuangan sampah organik</p>
<p style="text-align:justify;">-         Pencemaran limbah pertanian, pencemaran minyak dan industri</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Upaya pelestarian padang lamun dengan cara :</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">-         Mencegah terjadinya pengrusakan akibat pengerukan dan pengurugan kawasan lamun</p>
<p style="text-align:justify;">-         Mencegah terjadinya pengrusakan akibat kegiatan konstruksi di wilayah pesisir</p>
<p style="text-align:justify;">-         Mencegah terjadinya pembuangan limbah dari kegiatan industri, buangan termal serta limbah pemukiman</p>
<p style="text-align:justify;">-         Mencegah terjadinya penangkapan ikan secara destruktif yang membahayakan lamun</p>
<p style="text-align:justify;">-         Memelihara salinitas perairan agar sesuai batas salinitas padang lamun</p>
<p style="text-align:justify;">-         Mencegah terjadinya pencemaran minyak di kawasan lamun</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Pengambilan Sampel Padang Lamun</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Pengamatan lamun di lapangan meliputi identifikasi jenis-jenis lamun, menghitung jumlah individu (tegakan), persentase penutupan dari masing-masing spesies pada setiap transek dengan menggunakan kuadran (petak contoh berbentuk bujur sangkar)<strong> </strong>yaitu dengan Metode Transek Garis atau <em>Line Intercept Transect </em>(LIT) dan Petak contoh (<em>Transect plot</em>).</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Ekosistem Mangrove</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Mangrove berasal dari kata mangue/mangal (Portugish) dan grove (English). Suatu tipe ekosistem hutan yang tumbuh di suatu daerah <a href="http://ilmukelautan.com/oseanografi/fisika-oseanografi/402-pasang-surut">pasang</a><a href="http://ilmukelautan.com/oseanografi/fisika-oseanografi/402-pasang-surut"> </a><a href="http://ilmukelautan.com/oseanografi/fisika-oseanografi/402-pasang-surut">surut</a> (pantai, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas pada saat air laut surut, komunitas tumbuhannya mempunyai toleransi terhadap garam (salinity) air laut. Mangrove merupakan tumbuhan yang terutama tumbuh pada tanah lumpur aluvial di daerah pantai dan muara sungai yang dipengaruhi pasang surut air laut. Luas hutan mangrove di Indonesia merupakan yang terluas di dunia (2,5-3,5 juta Ha,18-23 % luas mangrove di dunia dan lebih luas dari Brasil) dan saat ini sudah mengalami kerusakan hampir 68%. Jenis-jenis mangrove, antara lain :</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Avicenniaceae (api-api, black mangrove, dll)</li>
<li>Combretaceae (teruntum, white mangrove, zaragoza mangrove, dll)</li>
<li>Arecaceae (nypa, palem rawa, dll)</li>
<li>Rhizophoraceae (bakau, red mangrove, dll)</li>
<li>Lythraceae (sonneratia, dll)</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Mangrove memiliki beberapa fungsi, diantaranya :</li>
<li>Fungsi ekologis:</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">-         Sebagai peredam gelombang (termasuk gelombang tsunami), angin dan badai</p>
<p style="text-align:justify;">-         Melindungi daerah pantai dari bahaya abrasi</p>
<p style="text-align:justify;">-         Sebagai penyerap nutrien organik, penahan lumpur dan perangkap sedimen</p>
<p style="text-align:justify;">-         Penghasil detritus yang merupakan hasil dekomposisi dari serasah mangrove</p>
<p style="text-align:justify;">-         Sebagai daerah asuhan, mencari makan dan berkembangbiak ikan, udang  dan hewan liar lainnya</p>
<p style="text-align:justify;">-         Bentuk Pengelolaan (manfaat dan konservasi): Silvofishery, minawana. Banyak berkembang di Jawa dan Sulawesi Selatan.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Fungsi ekonomi : sebagai penghasil kayu untuk bahan bangunan, kayu bakar, bahan baku arang, tanin, obat-obatan, energi/biofuel, dan pariwisata.</li>
</ul>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Perubahan hutan mangrove menyebabkan gangguan fungsi ekologi mangrove :</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">-         Konversi hutan mangrove menjadi lahan tambak, pemukiman, pertanian, pelabuhan dan perindustrian</p>
<p style="text-align:justify;">-         Pencemaran limbah domestik dan bahan pencemar lainnya</p>
<p style="text-align:justify;">-         Penebangan ilegal</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Parameter Penentuan Kerusakan Mangrove, daerah Pengukuran :</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">-         Sempadan pantai mangrove : min.130 kali nilai rata-rata perbedaan air pasang tertinggi dan terendah tahunan diukur dari garis air surut terendah ke arah darat</p>
<p style="text-align:justify;">-         Sempadan sungai mangrove : 50 m ke arah kiri dan ke kanan dari garis pasang tertinggi air sungai yang masih dipengaruhi pasang surut air laut</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Metode Pengukuran dan Penentuan Kerusakan Mangrove</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Metode Transek Garis atau <em>Line Intercept Transect </em>(LIT) dan Petak contoh (<em>Transect plot</em>) yaitu metode pencuplikan contoh populasi suatu komunitas dengan pendekatan petak contoh yang berada pada garis yang ditarik melewati wilayah ekosistem tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Untuk melihat daftar istilah-istilah  ekologi yang terdapat dalam tulisan ini, silahkan kunjungi : http://laluauliyaakraboe.wordpress.com/<br />
</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blueseafer.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blueseafer.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blueseafer.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blueseafer.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/blueseafer.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/blueseafer.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/blueseafer.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/blueseafer.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blueseafer.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blueseafer.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blueseafer.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blueseafer.wordpress.com/56/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blueseafer.wordpress.com/56/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blueseafer.wordpress.com/56/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=56&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blueseafer.wordpress.com/2010/04/14/%ef%81%b6ekologi-laut-tropis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5b198057ec1cd5c5ef13ceb743fe33c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">blueseafer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/04/laut-tropis-indonesia.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">laut tropis indonesia</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ekosistem Terumbu Karang Pantai Pangandaran Jawa Barat</title>
		<link>http://blueseafer.wordpress.com/2010/03/31/ekosistem-terumbu-karang-pantai-pangandaran-jawa-barat/</link>
		<comments>http://blueseafer.wordpress.com/2010/03/31/ekosistem-terumbu-karang-pantai-pangandaran-jawa-barat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Mar 2010 17:41:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blueseafer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Marine Ecology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blueseafer.wordpress.com/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Kawasan Pantai Pangandaran merupakan salah satu objek wisata andalan Kabupaten Ciamis dan Provinsi Jawa Barat. Bahkan, kawasan yang berada di Pantai Selatan Jawa ini masuk dalam agenda kunjungan wisata Indonesia tahun 2008. Karena itu, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Budaya setempat, terus membenahi dan melengkapi berbagai fasilitas penunjang kawasan wisata Pantai Pangandaran. Keistimewaan Pengunjung [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=40&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/pangandaran-beach-west-java-indonesia.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-41" title="pangandaran-beach-west-java-indonesia" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/pangandaran-beach-west-java-indonesia.jpg?w=630" alt=""   /></a>Kawasan Pantai Pangandaran merupakan salah satu objek wisata andalan Kabupaten Ciamis dan Provinsi Jawa Barat. Bahkan, kawasan yang berada di Pantai Selatan Jawa ini masuk dalam agenda kunjungan wisata Indonesia tahun 2008. Karena itu, pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata dan Budaya setempat, terus membenahi dan melengkapi berbagai fasilitas penunjang kawasan wisata Pantai Pangandaran. Keistimewaan Pengunjung dapat menikmati panorama alam Pantai Pangandaran yang indah dan hamparan landai pasir putih pantainya yang memesona. Pantai Pangandaran terletak di Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Selain keindahan pantainya, pangandaran juga mempunyai potensi wisata lain yang salah satunya yaitu keindahan terumbu karangnya. Sebelum tahun 1970-an, tutupan terumbu karang di Pantai Pangandaran seluas 1500 m x 50 m. Karena berbagai penyebab, keberadaan terumbu karang yang tersisa hanya 100 m x 50 m (Pasirputih) dan 150 m x 50 m di Pantai Timur Pangandaran.</p>
<p style="text-align:center;"><span id="more-40"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Terumbu karang adalah sekumpulan <em>hewan karang</em> yang bersimbiosis dengan sejenis tumbuhan alga yang disebut <em>zooxanhellae</em>. Hewan karang bentuknya aneh, menyerupai batu dan mempunyai warna dan bentuk beraneka rupa. Hewan ini disebut polip, merupakan hewan pembentuk utama terumbu karang yang menghasilkan zat kapur. Polip-polip ini selama ribuan tahun membentuk terumbu karang. Zooxanthellae adalah suatu jenis algae yang bersimbiosis dalam jaringan karang.  Zooxanthellae ini melakukan fotosintesis menghasilkan oksigen yang berguna untuk kehidupan hewan karang.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/gbr-51.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-43" title="gbr-5" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/gbr-51.jpg?w=630" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Gambar. Jejaring makanan di ekosistem terumbu karang.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa jenis terumbu karang yang hidup di wilayah pantai pangandaran  antara lain : Acropora, Fungis sp, Favia sp, Oxypora, Chaetodon sp, Apolemichthys sp, Dasyllus sp, dll.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/oxypora.jpg"><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-44" title="oxypora" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/oxypora.jpg?w=116&#038;h=94" alt="" width="116" height="94" /></a><a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/fungia-sp-green-edge.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-45 alignleft" title="Fungia sp. (green edge)" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/fungia-sp-green-edge.jpg?w=116&#038;h=93" alt="" width="116" height="93" /></a><em><a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/terumbu-karang.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-46 alignleft" title="terumbu-karang" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/terumbu-karang.jpg?w=126&#038;h=94" alt="" width="126" height="94" /></a></em></p>
<p style="text-align:justify;"><em><br />
</em></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><em>Oxypora sp.                                          Fungia sp.                             Acropora sp.</em></p>
<p style="text-align:justify;">Banyak peran dan manfaat dari terumbu karang ini di antaranya yaitu sebagai tempat hdiupnya ikan-ikan yang banyak dibutuhkan manusia untuk pangan, seperti ikan kerapu, ikan baronang, ikan ekor kuning, dll ; sebagai benteng &#8221; pelindung pantai dari kerusakan yang disebabkan oleh gelombang atau ombak laut, sehingga manusia dapat hidup di daerah dekat pantai ; sebagai tempat untuk wisata. Karena keindahan warna dan bentuknya, banyak orang berwisata bahari.</p>
<p style="text-align:justify;">Berdasarkan temuan Local Working Group (LWG) atau dikenal sebagai kelompok kerja lokal kepariwisataan Pangandaran, terumbu karang di area Pantai Barat (Pasirputih) dan Pantai Timur (Cirengganis) Pangandaran, Ciamis, saat ini dalam kondisi memprihatinkan. Keberadaan biota laut tersebut, kini, tinggal 14, 85 persen. Terumbu karang di Pantai Barat (Pasirputih) yang masih ada sekarang, antara lain karang hidup (live coral) 11, 48 persen, karang mati (dead coral) 20, 87 persen, dan patahan karang (rubble coral) 50,95 persen. Sementara itu, terumbu karang di Pantai Timur, yaitu karang hidup 18,21 persen, karang mati 13,13 persen, dan patahan karang 61,70 persen.</p>
<p style="text-align:justify;">Rusaknya biota laut di dua areal itu telah menyebabkan pasir pantai terkikis. Yang lebih parah lagi, kerusakan tersebut telah menyebabkan nelayan terus-terusan mengalami paceklik. Adapun penyebab kerusakan terumbu karang tersebut, terutama karena ulah manusia. Di antaranya, aktivitas rekreasi pantai, pembuangan sampah ke laut, penangkapan ikan yang berlebih, penyelaman yang merusak, dan penambatan kapal dengan sistem jangkar.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Daftar referensi</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bengen, D.G. 2001. <em>Slide Mata Analisis Ekosistem Pesisir dan Laut.</em> Program     studi SPL, Institut Pertanian Bogor. Bogor.69</p>
<p style="text-align:justify;">Dahuri, R., J. Rais, S.P. Ginting, dan M.J. Sitepu. 2001. <em>Pengelolaan</em> <em>Sumber Daya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu.</em> Jakarta: PT. Pradnya Pratama.</p>
<p style="text-align:justify;">Nybakken,J. W. 1992. <em>Biologi Laut: Suatu Pendekatan Ekologis</em>. Terj. Dari <em>Marine Biology: An Ecological Approach</em>, oleh Eidman, M., Koesoebiono, D.G. Bengen, M. Hutomo, &amp; S.Sukardjo. 1992. dari. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: xv+459 hlm.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>http//: PasirPantai.com.pantaipangandaran.htm</em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align:justify;">disusun oleh:</p>
<p style="text-align:justify;">1. Lalu Auliya Akraboe L            230210080025</p>
<p style="text-align:justify;">2. Dwiko Handiko Bowo               230210080058</p>
<p style="text-align:justify;">Prodi Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Penulis</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong><a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/b5b198057ec1cd5c5ef13ceb743fe33c.jpeg"><img class="alignright size-full wp-image-48" title="b5b198057ec1cd5c5ef13ceb743fe33c" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/b5b198057ec1cd5c5ef13ceb743fe33c.jpeg?w=630" alt=""   /></a></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Dwiko Handiko Bowo, lahir di Jakarta tanggal 14 Agustus 1989, anak ke-2 dari 3 bersaudara. Di Jakarta pada tahun 1994 mulai mengenyam pendidikan di TK Nurul Huda, kemudian masuk SD 04 pg pada tahun 1995, SMPN 144 tahun 2001, lalu SMAN 21 tahun 2004 dan pada saat ini sedang menyelesaikan pendidikan S1 program studi Ilmu kelautan di Universitas Padjajdaran.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blueseafer.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blueseafer.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blueseafer.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blueseafer.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/blueseafer.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/blueseafer.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/blueseafer.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/blueseafer.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blueseafer.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blueseafer.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blueseafer.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blueseafer.wordpress.com/40/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blueseafer.wordpress.com/40/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blueseafer.wordpress.com/40/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=40&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blueseafer.wordpress.com/2010/03/31/ekosistem-terumbu-karang-pantai-pangandaran-jawa-barat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5b198057ec1cd5c5ef13ceb743fe33c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">blueseafer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/pangandaran-beach-west-java-indonesia.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pangandaran-beach-west-java-indonesia</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/gbr-51.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">gbr-5</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/oxypora.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">oxypora</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/fungia-sp-green-edge.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">Fungia sp. (green edge)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/terumbu-karang.jpg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">terumbu-karang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2010/03/b5b198057ec1cd5c5ef13ceb743fe33c.jpeg" medium="image">
			<media:title type="html">b5b198057ec1cd5c5ef13ceb743fe33c</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pergerakan Indo-Pacific Warm Pool (IPWP) ke Timur Penyebab El Nino di Indonesia</title>
		<link>http://blueseafer.wordpress.com/2009/12/25/pergerakan-indo-pacific-warm-pool-ipwp-ke-timur-penyebab-el-nino-di-indonesia/</link>
		<comments>http://blueseafer.wordpress.com/2009/12/25/pergerakan-indo-pacific-warm-pool-ipwp-ke-timur-penyebab-el-nino-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 11:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blueseafer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Meteorologi Laut]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blueseafer.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Dwiko Handiko Bowo Pengertian IPWP Indo-Pacific Warm Pool (IPWP) adalah kolam air hangat terbesar di dunia, terentang dari Samudra Hindia tropis sebelah timur sampai Samudra Pasifik tropis di bagian barat. IPWP memiliki temperatur permukaan laut terpanas, sekitar 28 derajat Celsius, sehingga kawasan itu merupakan sumber panas dan kelembapan terbesar bagi atmosfer dunia. Di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=11&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Oleh : Dwiko Handiko Bowo</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pengertian IPWP</strong><br />
<a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2009/12/warmpool.jpeg"><img class="alignright size-thumbnail wp-image-84" title="warmpool" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2009/12/warmpool.jpeg?w=148&#038;h=133" alt="" width="148" height="133" /></a>Indo-Pacific Warm Pool (IPWP) adalah kolam air hangat terbesar di dunia, terentang dari Samudra Hindia tropis sebelah timur sampai Samudra Pasifik tropis di bagian barat. IPWP memiliki temperatur permukaan laut terpanas, sekitar 28 derajat Celsius, sehingga kawasan itu merupakan sumber panas dan kelembapan terbesar bagi atmosfer dunia.   Di Indonesia sendiri, warm pool terdapat di sebelah utara Irian dan di sekitar kepulauan Halmahera.<br />
Warm Pool terbentuk karena adanya Angin Timur (AT) yang bertiup disebelah katulistiwa Samudera Pasifik. Angin ini adalah hasil dari komponen timur-barat Angin Pasat Tenggara dan Timur Laut, yang bertiup normal sepanjang tahun dari kawasan Subtropika ke wilayah tekanan rendah di kawasan katulistiwa. Angin Timur yang dihasilkannya menimbulkan arus katulistiwa utara–selatan (AKU dan AKS) yang mendorong masa air dari bagian timur katulistiwa Pasifik ke bagian baratnya, sehingga terbentuklah kolam air hangat atau warm pool di sekitar utara Irian dan kepulauan Halmahera. Pusat sebaran kolam air hangat ini sangat dipengaruhi oleh Angin Monsun Australia, yaitu pada musim panas utara warm pool lebih menyebar ke bagian utara dan pada musim panas selatan warm pool menyebar lebih ke bagian selatan katulistiwa. Warm pool memanasi udara di atasnya dan menimbulkan konveksi udara yang mengangkut uap air ke lapisan-lapisan atmosfer hingga terbentuk awan dan hujan yang jatuh kembali ke bumi, termasuk ke atas kawasan Indonesia.</p>
<p style="text-align:center;"><span id="more-11"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Proses Terjadinya El Nino</strong></p>
<p style="text-align:justify;">El Nino berasal dari bahasa Spanyol yang berarti “anak lelaki”. Sejarahnya, pada abad ke-19 nelayan Peru menyadari terjadinya kondisi menghangatnya suhu lautan yang tidak biasa di wilayah pantai Amerika Selatan, dekat Ekuador dan meluas hingga perairan Peru. Hal ini terjadi di sekitar musim Natal pada setiap tahun.</p>
<p style="text-align:justify;">Gilbart Walker yang mengemukaan tentang El Nino dan sekarang dikenal dengan Sirkulasi Walker yaitu sirkulasi angin Timur-Barat di atas Perairan Pasifik Tropis. Sirkulasi ini timbul karena perbedaan temperatur di atas perairan yang luas      pada daerah tersebut.<br />
a. Perairan sepanjang pantai China dan Jepang, atau Carolina Utara dan Virginia, lebih hangat dibandingkan dengan perairan sepanjang pantai Portugal dan California. Sedangkan perairan di sekitar wilayah Indonesia lebih hangat daripada perairan di sekitar Peru, Chile dan Ekuador.<br />
b. Perbedaan temperatur lautan di arah Timur – Barat ini menyebabkan perbedaan tekanan udara permukaan di antara tempat – tempat tersebut.<br />
c. Udara bergerak naik di wilayah lautan yang lebih hangat dan bergerak turun di di wilayah lautan yang lebih dingin. Dan itu menyebabkan aliran udara di lapisan permukaan bergerak dari Timur ke Barat.<br />
Inilah yang kemudian disebut dengan angin Pasat Timuran.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="../files/2009/12/hal3.jpg"><img title="hal3" src="../files/2009/12/hal3.jpg" alt="" width="400" height="194" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Sirkulasi Timur Barat (Sirkulasi Walker)</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika terjadi El Nino :</p>
<p style="text-align:justify;">Angin Pasat Timuran      melemah, artinya angin berbalik arah ke Barat dan mendorong wilayah      potensi hujan ke Barat. Hal ini menyebabkan perubahan pola cuaca. Daerah      potensi hujan meliputi wilayah Perairan Pasifik Tengah dan Timur dan      Amerika Tengah.</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2009/12/hal7a.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-34" title="hal7a" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2009/12/hal7a.jpg?w=630" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada kondisi El Nino sebaran awan hujan sangat sedikit di wilayah Indonesia</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2009/12/hal61.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-36" title="hal6" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2009/12/hal61.jpg?w=630" alt=""   /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat El Nino jumlah air laut bersuhu rendah yang mengalir di sepanjang Pantai Selatan Amerika dan Pasifik Timur berkurang atau bahkan menghilang sama sekali. Wilayah Pasifik Timur dan Tengah menjadi sehangat Pasifik Barat.</p>
<p style="text-align:justify;">Singkatnya jika Angin Pasat penyebab terjadinya Angin Timur mengendur atau berbalik arah maka air hangat ini akan bergerak ke arah timur dan membawa serta awan hujan. El Nino akan terjadi sehingga Indonesia akan mengalami musim kemarau panjang yang menimbulkan musibah kekeringan yang berdampak sangat luas. Pergerakan air hangat ke arah timur penyebab terjadinya El Nino tersebut juga dikarenakan adanya perbedaan udara antara Indonesia dan bagian timur Samudera Pasifik sangat rendah sehingga hampir tidak ada angin timur.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dampak Negatif El Nino</strong><br />
Akibat adanya El Nino, musim kemarau di Indonesia berlangsung lebih lama dari biasanya. Biasanya musim kemarau berlangsung hanya dua atau tiga bulan dari bulan juli hingga agustus dan september akan tetapi bila El Nino datang maka musim kemarau akan diperpanjang paling kurang sampai setahun. Musim kemarau terlama/ terpanjang akibat adanya El Nino terjadi pada tahun 1939 sampai tahun 1942, berlangsung sampai 33 bulan. Sebagai akibat dari kemarau panjang tersebut, maka hutan- hutan menjadi kering dan layu. Sungai, kolam dan danau yang tadinya penuh dengan air menjadi dangkal ataupun menjadi kering pula. Hal ini tentu saja menimbulkan akibat yang sangat parah pada kehidupan penduduk pada keseluruhannya, sebagaimana yang sudah dikenal selama ini. Hutan yang kering menjadi mudah terbakar. Baik hewan maupun berbagai jenis tumbuh- tumbuhan di dalamnya ikut pula terbakar. Hasilnya adalah kerugian besar di bidang produksi hasil hutan yang turun drastis dan punahnya spesies hewan dan tumbuh- tumbuhan yang tidak terkirakan nilainya, baik untuk keperluan penelitian lebih lanjut ataupun untuk penangkaran hasanah genetika. Keringnya sungai menurunkan pula persediaan air dalam bendungan irigasi. Hal ini mengakibatkan menurunnya pangan dari berbagai jenis biji- bijian, menurunnya produksi listrik dan menurunnya produksi ikan kolam atau ikan keramba dll. Industri berbasis tenaga listrik pun ikut menurun hasil produksinya. Akibat kumulatif akhirnya memang cukup besar yang harus di tanggung oleh pemerintah dan masyarakat. Akibat El Nino 1997/1998 seluruhnya berjumlah 2100 korban manusia dan 33 milyar dolar kerugian material (suplee, 1999).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dampak di Sektor Kehidupan</strong><br />
Dampak El Nino secara tidak langsung juga melanda berbagai sektor kehidupan, antara lain di sektor pertanian, terlambatnya musim tanam, terbatasnya ketersediaan air bagi tanaman (kekeringan agronomis) akan memberikan dampak yang besar, baik secara langsung maupun tak langsung, seperti gagal panen dan rawan ketahanan pangan. Selain itu juga dampaknya mempengaruhi kinerja industri pupuk dan transportasi. Pada tahun 1991, Indonesia mengimpor sebesar 600 ribu ton beras dan tahun 1994 jumlah beras yang diimpor lebih dari satu juta ton (KLH, 1998) karena Indonesia mengalami gagal panen padi akibat kekeringan.<br />
Di sektor perkebunan, dampak kejadian kekeringan panjang akibat El Nino pada tanaman tahunan akan terlihat nyata setelah satu sampai tiga semester kemudian.  Misalnya di perkebunan kelapa sawit di Lampung, produksi buah segar menurun drastis satu-dua semester setelah kejadian iklim El Nino. Penurunan produksi dapat mencapai sekitar 0,8 ton per hektar. Ekspor kopi dan karet juga dilaporkan menurun setahun setelah kejadian iklim El Nino.<br />
Di sektor kehutanan, kejadian iklim El Nino juga dapat meningkatkan peluang  terjadinya kebakaran hutan. Kejadian El Nino telah menciptakan kondisi yang sangat kondusif untuk terjadinya kebakaran hutan. Peningkatan suhu udara yang terjadi selama musim kemarau yang panjang mengakibatkan mudah terbakarnya ranting-ranting atau daun-daun akibat gesekan yang ditimbulkan. Pada peristiwa El Nino tahun 1994, hutan Indonesia seluas 5 juta ha habis terbakar (Bappenas, 1999). Besarnya luasan hutan yang terbakar telah menyebabkan hilangnya berbagai keanekaragaman hayati, terutama yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Selain itu kebakaran juga menimbulkan dampak sosial dan kesehatan bagi masyarakat di sekitarnya.<br />
Di sektor kesehatan, asap yang ditimbulkan oleh kebakaran hutan juga menimbulkan penyakit saluran pernafasan. Berdasarkan pengamatan, jumlah bahan partikulat di udara dengan berdiameter kurang dari 10 mikron mencapai 494 ug/m3, jauh di atas baku mutu lingkungan yaitu 300 ug/m3 (UNDP, 2000).  Penyakit malaria dan deman berdarah juga dilaporkan meningkat pada tahun-tahun El Nino.<br />
Di sektor irigasi, hasil kajian menyebutkan bahwa kondisi beberapa DAS di Indonesia cukup kritis dan jumlahnya semakin banyak, khususnya di Jawa.  Berdasarkan analisis terhadap data debit minimum dan maksimum dari 52 sungai yang tersebar di seluruh Indonesia mulai dari Sabang sampai ke Merauke, terlihat bahwa jumlah sungai yang debit minimumnya berpotensi untuk menimbulkan masalah kekeringan meningkat. Kondisi ini mengindikasikan bahwa daerah aliran sungai di wilayah Indonesia setelah tahun 1990-an banyak yang sudah mengalami degradasi sehingga adanya penyimpangan iklim dalam bentuk penurunan atau peningkatan hujan jauh dari normal akan langsung menimbulkan penurunan atau peningkatan yang tajam dari debit minimum atau debit maksimum (kekeringan hidrologis).<br />
Di sektor perikanan dan kelautan, hasil tangkapan ikan pada tahun-tahun el nino juga dilaporkan menurun. Hal ini disebabkan karena pada kondisi tersebut ketersediaan pakan bagi ikan (plankton) juga berkurang. Pada tahun-tahun normal, air laut dalam yang bersuhu rendah dan kaya akan nutrisi bergerak naik ke permukaan di wilayah dekat pantai. Kondisi ini dikenal dengan upwelling. Upwelling ini menyebabkan daerah tersebut sebagai tempat berkumpulnya jutaan plankton dan ikan. Ketika terjadi El Nino upwelling jadi melemah, air dengan kandungan nutrisi yang tinggi akan berkurang  sehingga ikan akan mencari makanan di tempat lain dan panen para nelayan berkurang. Selain itu banyak terumbu karang yang mengalami keputihan (coral bleaching) akibat terbatasnya alga yang merupakan sumber makanan terumbu karang karena tidak mampu beradaptasi dengan peningkatan suhu air laut. Memanasnya air laut juga akan mengganggu kehidupan jenis ikan tertentu yang sensitif terhadap naiknya suhu laut. Kondisi ini menyebabkan terjadinya migrasi ikan ke perairan lain yang lebih dingin.<br />
Semoga informasi ini bisa menjadi perhatian kita semua, khususnya pembuat kebijakan dalam pemerintahan Indonesia yang berkepentingan dalam menyusun strategi sebagai langkah preventif dalam mengantisipasi berbagai bencana yang mungkin dapat ditimbulkan oleh fenomena El Nino.</p>
<p style="text-align:justify;">Daftar Referensi</p>
<p style="text-align:justify;">Anonim. 2009. Selamat Datang El Nino. http://www.pos-kupang.com/read/artikel.htm<br />
Defant, A. 1961. In : G. Neumann and W.J. Pierson Jr. “ Principles of Physical Oceanography”. Prentice-Hall, Inc., Englewood Cliffs, N,Y., 1966, 545 pp.<br />
Suplee, C. 1999. El Nino – La Nina : nature’s vicious cycle. Nat. Geographic, 195(3) : 72-95.<br />
Susanto, Dwi. 1997. 1997 Tahun El Nino? http://www.ldeo.columbia.edu/ dwi/papers/opini tahu.htm.<br />
Sverdrup, H.V, M.W. Johnson and R.H. Fleming. 1942. The Oceans : their physics, chemistry     and general  biology. Prentice Hall, Inc., N.Y., 1087 pp.</p>
<p style="text-align:justify;">http://www.bom.gov.au/lam/climate/level3/analclim/elnino.htm</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blueseafer.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blueseafer.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blueseafer.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blueseafer.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/blueseafer.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/blueseafer.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/blueseafer.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/blueseafer.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blueseafer.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blueseafer.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blueseafer.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blueseafer.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blueseafer.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blueseafer.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=11&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blueseafer.wordpress.com/2009/12/25/pergerakan-indo-pacific-warm-pool-ipwp-ke-timur-penyebab-el-nino-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>27</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5b198057ec1cd5c5ef13ceb743fe33c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">blueseafer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2009/12/warmpool.jpeg?w=150" medium="image">
			<media:title type="html">warmpool</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2009/12/hal7a.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hal7a</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2009/12/hal61.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hal6</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketam Kenari (Birgus B.latro)</title>
		<link>http://blueseafer.wordpress.com/2009/12/16/ketam-kenari/</link>
		<comments>http://blueseafer.wordpress.com/2009/12/16/ketam-kenari/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Dec 2009 14:59:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>blueseafer</dc:creator>
				<category><![CDATA[Crustacea]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blueseafer.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Klasifikasi : Kerajaan: Animalia Filum: Arthropoda Subfilum: Crustacea Kelas: Malacostraca Ordo: Decapoda Subordo: Pleocyemata Famili: Coenobitidae Genus: Birgus Spesies: B. latro Ketam kenari, Birgus latro, atau disebut Kepiting Kelapa merupakan artropoda darat terbesar di dunia. Meskipun disebut ketam/kepiting, hewan ini bukanlah ketam/kepiting. Ketam ini merupakan jenis umang-umang yang sangat maju dalam hal evolusi. Jadi mungkin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=3&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><strong> </strong><strong>Klasifikasi :<a href="http://blueseafer.files.wordpress.com/2009/12/300px-robber_crab1.jpg"><img class="size-full wp-image-18 alignright" title="300px-Robber_crab" src="http://blueseafer.files.wordpress.com/2009/12/300px-robber_crab1.jpg?w=630" alt=""   /></a></strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kerajaan: <a title="Animalia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Animalia">Animalia</a><br />
Filum: <a title="Arthropoda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arthropoda">Arthropoda</a><br />
Subfilum: <a title="Crustacea" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Crustacea">Crustacea</a><br />
Kelas: <a title="Malacostraca (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Malacostraca&amp;action=edit&amp;redlink=1">Malacostraca</a><br />
Ordo: <a title="Decapoda (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Decapoda&amp;action=edit&amp;redlink=1">Decapoda</a><br />
Subordo: <a title="Pleocyemata (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pleocyemata&amp;action=edit&amp;redlink=1">Pleocyemata</a><br />
Famili: <a title="Coenobitidae (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Coenobitidae&amp;action=edit&amp;redlink=1">Coenobitidae</a><br />
Genus: <strong><em>Birgus</em></strong><br />
Spesies: <strong><em>B. latro</em></strong></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketam kenari</strong>, <strong><em>Birgus latro</em></strong>, atau disebut <em>Kepiting Kelapa</em> merupakan <a title="Arthropoda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arthropoda">artropoda</a> darat terbesar di dunia. Meskipun disebut ketam/kepiting, hewan ini bukanlah ketam/kepiting. Ketam ini merupakan jenis <a title="Umang-umang (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Umang-umang&amp;action=edit&amp;redlink=1">umang-umang</a> yang sangat maju dalam hal evolusi. Jadi mungkin ia lebih tepat disebut umang-umang kenari, namun demikian penduduk kepulauan Maluku sudah menyebutnya ketam kenari. Ketam ini dikenal karena kemampuannya mengupas buah <a title="Kelapa" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa">kelapa</a> dengan <a title="Capit (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Capit&amp;action=edit&amp;redlink=1">capitnya</a> yang kuat untuk memakan isinya. Ia satu-satunya <a title="Spesies" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Spesies">spesies</a> dari <a title="Genus" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Genus">genus</a> <em>Birgus</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Ia juga disebut dalam bahasa Inggris &#8220;<em>terrestrial hermit crab</em>&#8221; (<em>umang-umang darat</em>) karena penggunaan kulit keong oleh umang muda; tetapi, ada juga umang darat lain yang tidak menanggalkan kulit keongnya setelah dewasa. Hewan ini &#8211; khususnya genus <em><a title="Coenobita (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Coenobita&amp;action=edit&amp;redlink=1">Coenobita</a></em> yang masih berkerabat dekat &#8211; biasanya disebut &#8220;umang-umang darat&#8221;; karena dekatnya kekerabatan antara <em>Coenobita</em> dan <em>Birgus</em> maka istilah &#8220;umang-umang darat&#8221; ini biasanya mengacu pada anggota famili <a title="Coenobitidae (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Coenobitidae&amp;action=edit&amp;redlink=1">Coenobitidae</a>.</p>
<p style="text-align:center;"><span id="more-3"></span></p>
<h2 style="text-align:justify;">Ø     Deskripsi fisik</h2>
<p style="text-align:justify;">Laporan tentang ukuran <em>Birgus latro</em> beragam, namun menurut banyak rujukan beratnya mencapai 4 kg, panjang tubuh hingga 40 cm dan bentangan kaki sekitar 200 cmdan hewan jantan umumnya lebih besar daripada betina. Hal itu dipercaya mendekati batas teoritis untuk artropoda darat. Umurnya dapat mencapai 30-60 tahun (rujukan beragam).</p>
<p style="text-align:justify;">Seperti semua <a title="Dekapoda (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dekapoda&amp;action=edit&amp;redlink=1">dekapoda</a> lain, tubuh ketam kenari dibagi menjadi bagian depan (kepala-dada atau <a title="Sefalotoraks (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sefalotoraks&amp;action=edit&amp;redlink=1">sefalotoraks</a>), dengan 10 <a title="Kaki" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kaki">kaki</a>, dan <a title="Abdomen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdomen">abdomen</a> (perut). Sepasang kaki terdepan mempunyai <a title="Capit (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Capit&amp;action=edit&amp;redlink=1">capit</a> besar untuk mengupas kelapa, dan cakar (<em>chelae</em>) ini dapat mengangkat benda hingga seberat 29 kg. Dua pasang kaki berikutnya, seperti pada umang-umang lain, adalah kaki berjalan yang besar dan kuat yang memungkinkan ketam kenari memanjat pohon (seringkali kelapa) secara vertikal hingga setinggi 6 m. Pasangan kaki ke empat lebih kecil dengan cakar mirip pinset diujungnya, memungkinkan ketam muda berpegangan didalam kulit keong atau batok kelapa untuk berlindung; hewan dewasa menggunakan pasangan kaki ini untuk berjalan dan memanjat. Pasangan kaki terakhir sangat kecil dan hanya digunakan untuk membersihkan organ pernafasannya. Kaki-kaki ini diletakkan dalam <a title="Karapas (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Karapas&amp;action=edit&amp;redlink=1">karapas</a>, dalam rongga tempat organ pernafasannya berada. Ada beberapa perbedaan warna antara hewan di pulau yang satu dengan pulau yang lain, dari ungu muda, ungu tua hingga cokelat.</p>
<p style="text-align:justify;">Meskipun <em>Birgus latro</em> adalah tipe turunan dari <a title="Umang-umang (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Umang-umang&amp;action=edit&amp;redlink=1">umang-umang</a>, hanya yang muda yang memakai kulit keong untuk melindungi perutnya yang lunak, dan kadang-kadang hewan dewasa memakai batok kelapa yang pecah untuk melindungi perutnya. Tidak seperti umang-umang yang lain, ketam kenari dewasa tidaklah membawa kulit keong, melainkan mengeraskan perisai perut mereka dengan menumpuk <a title="Kitin (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Kitin&amp;action=edit&amp;redlink=1">kitin</a> dan <a title="Kapur" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kapur">kapur</a>. Mereka juga membengkokkan ekor mereka untuk melindunginya, seperti banyak <a title="Kepiting" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kepiting">kepiting</a> sejati. Perut yang mengeras melindungi ketam kenari dan mengurangi kehilangan air di darat, namun kulit ditubuhnya harus diganti secara berkala. Pergantian kulit berlangsung selama 30 hari, selama itu tubuh hewan ini lunak dan rapuh, dan ia bersembunyi untuk berlindung.</p>
<h3 style="text-align:justify;">Ø    Pernafasan</h3>
<p style="text-align:justify;">Kecuali sebagai <a title="Larva" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Larva">larva</a>, ketam kenari tidak berenang bahkan spesimen kecil akan tenggelam dalam air. Mereka menggunakan organ khusus yang disebut paru-paru branchiostegal untuk bernafas. Organ ini dapat ditafsirkan sebagai tingkat perkembangan antara <a title="Insang (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Insang&amp;action=edit&amp;redlink=1">insang</a> dan <a title="Paru-paru" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Paru-paru">paru-paru</a>, dan merupakan salah satu adaptasi paling signifikan dari ketam kenari terhadap <a title="Habitatnya (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Habitatnya&amp;action=edit&amp;redlink=1">habitatnya</a>. Ruangan dari organ pernafasan ini terletak bagian belakang sefalotoraks. Di organ ini terdapat jaringan yang sama seperti pada insang, namun cocok untuk penyerapan <a title="Oksigen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Oksigen">oksigen</a> dari udara, bukannya di air. Mereka memakai kaki terakhir yang paling kecil untuk membersihkan organ nafas ini, dan untuk membasahinya dengan air laut. Organ itu memerlukan air agar berfungsi, dan ketam ini memenuhi hal ini dengan menekan kaki yang dibasahi pada jaringan spons didekatnya. Ketam kenari juga bisa meminum air laut, menggunakan cara yang sama untuk mengambil air ke mulutnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain organ pernafasan ini, ketam kenari mempunyai kumpulan insang rudimenter tambahan. Namun sewaktu insang ini kemungkinan digunakan untuk bernafas dalam air pada sejarah <a title="Evolusi" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi">evolusi</a> jenis ini, mereka tidak lagi menyediakan cukup oksigen, dan ketam yang terbenam di air akan tenggelam dalam waktu beberapa menit (laporan beragam, mungkin tergantung tingkat stres dan latihan serta konsumsi oksigen yang dihasilkan).</p>
<h2 style="text-align:justify;">Ø    Perkembangbiakan</h2>
<p style="text-align:justify;">Ketam kenari kawin secara berulangkali dan cepat di daratan kering pada periode dari Mei sampai September, khususnya Juli dan Agustus. Ketam jantan dan betina berkelahi satu sama lain, lalu yang jantan berbalik ke punggung betina untuk kawin. Seluruh proses perkawinan berlangsung sekitar 15 menit. Tidak lama kemudian, betina bertelur dan melekatkannya dibawah perutnya, membawa telur-telur yang telah dibuahi itu selama beberapa bulan. Bila tiba waktu telur-telur itu menetas, biasanya bulan Oktober atau November, ketam kenari betina melepaskan telur-telur tersebut ke lautan pada saat <a title="Pasang surut" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pasang_surut">pasang naik</a>. Seperti pada krustasea <a title="Dekapoda (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Dekapoda&amp;action=edit&amp;redlink=1">dekapoda</a> lain, larvanya bertipe <a title="Zoea" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Zoea">zoea</a>. Dilaporkan bahwa semua ketam kenari melakukan hal ini pada malam yang sama dan berada di pantai pada saat yang sama.</p>
<p style="text-align:justify;">Larva-larva itu mengapung di lautan selama 28 hari, selama itu banyak dari mereka dimakan pemangsa. Setelah itu, mereka hidup di dasar laut dan di pantai sebagai <a title="Umang-umang (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Umang-umang&amp;action=edit&amp;redlink=1">umang-umang</a>, menggunakan cangkang siput yang kosong untuk berlindung selama 28 hari berikutnya. Pada saat ini, mereka kadang-kadang pergi ke daratan kering. Seperti umang-umang -yang lain, ia mengganti cangkang siput itu, dengan bertambah besarnya ukuran mereka. Setelah 28 hari ini, mereka meninggalkan lautan secara permanen dan kehilangan kemampuan bernafas di air. Ketam kenari muda yang tidak dapat menemukan cangkang keong yang beukuran tepat juga sering memakai potongan kelapa retak. Saat mereka tumbuh bahkan melebihi tempurung kelapa, mereka mengembangkan perut yang mengeras. Kira-kira 4 sampai 8 tahun setelah menetas, ketam kenari dewasa dan dapat berkembang biak. Masa perkembangan yang panjang itu tidak biasa ditemukan pada <a title="Crustacea" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Crustacea">crustacea</a>.</p>
<h2 style="text-align:justify;">Ø    Makanan</h2>
<p style="text-align:justify;">Makanan ketam kenari terutama terdiri dari <a title="Buah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buah">buah</a>, termasuk kelapa dan beringin. Tetapi, mereka akan memakan hampir semua yang organik, seperti <a title="Daun" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daun">daun</a>, buah busuk, telur <a title="Penyu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penyu">penyu</a>, hewan mati, dan cangkang hewan lain, yang dipercaya menyediakan <a title="Kalsium" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalsium">kalsium</a>. Mungkin mereka juga makan hewan hidup lain yang terlalu lambat untuk lari, seperti tukik penyu yang baru menetas. Selama percobaan pemberian label, seekor ketam kenari diamati menangkap dan memakan <a title="Tikus polinesia (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Tikus_polinesia&amp;action=edit&amp;redlink=1">tikus polinesia</a>. Ketam kenari sering mencoba mencuri makanan dari ketam lain dan akan menyeret makanan mereka ke tempat bersembunyi untuk makan dengan aman.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketam kenari memanjat pohon untuk makan kelapa atau buah, untuk menghilangkan panas atau untuk lari dari pemangsa. Adalah anggapan umum bahwa ketam kenari memotong buah kelapa dari pohonnya lalu memakannya di tanah (dari situlah nama Jerman <em>Palmendieb</em>, yang berarti &#8220;pencuri kelapa&#8221;, dan nama Belanda <em>Klapperdief</em>). Tetapi menurut ahli biologi <a title="Jerman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman">Jerman</a> Holger Rumpf, hewan itu tidak cukup <a title="Pintar (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pintar&amp;action=edit&amp;redlink=1">pintar</a> untuk melakukan hal itu, melainkan ketam itu menjatuhkan buah kelapa ke tanah saat mencoba membuka buah itu di pohon. Ketam kenari membuat lubang ke dalam kelapa dengan capit mereka yang kuat lalu memakan isinya; perilaku ini unik dalam dunia binatang.</p>
<p style="text-align:justify;">Diragukan beberapa lama bahwa ketam kenari dapat membuka buah kelapa, dan pada percobaan, beberapa ekor mati dikelilingi kelapa.Namum Thomas Hale Streets membahas perilaku itu tahun 1877 &#8211; meski saat itu ragu bahwa ketam itu memanjat pohon untuk mencapai buah kelapa.. Dan tahun 1980 Holger Rumpf mampu membenarkan laporan Streets, dengan mengamati dan mempelajari cara ketam itu mengupas kelapa di alam. Hewan itu mengembangkan cara khusus untuk melakukannya: jika buah kelapa masih tertutup <a title="Sabut (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sabut&amp;action=edit&amp;redlink=1">sabut</a>, ia akan memakai capitnya untuk merobek sabut, selalu dimulai dari sisi dengan tiga lubang perkecambahan. kumpulan tiga lubang itu ditemukan di luar buah. Begitu lubang itu terlihat, ketam akan menjepit sampai salah satu lubang itu pecah. Setelah itu, ia akan berbaik dan memakai capitnya yang lebih kecil pada kaki lainnya untuk mengeluarkan daging putih buah kelapa. Dengan cakarnya yang kuat, hewan yang lebih besar dapat memecahkan kelapa yang keras menjadi potongan kecil untuk memudahkan konsumsi.</p>
<h2 style="text-align:justify;">Ø    Habitat dan penyebaran</h2>
<p style="text-align:justify;">Ketam kenari hidup sendiri dibawah tanah atau celah-celah bebatuan, tergantung daerah setempat. Mereka menggali tempat bersembunyi di pasir atau tanah gembur. Di siang hari, ketam kenari bersembunyi, untuk berlindung dan mengurangi hilangnya air karena panas. Di tempat persembunyiannya terdapat serat sabut kelapa yang kuat nan halus, yang dipakainya sebagai alas; sabut kelapa ini dikumpulkan oleh warga lokal untuk dibuat kerajinan. Saat beristirahat di liangnya, ketam kenari menutup jalan masuk dengan salah satu capitnya untuk menjaga kelembaban yang penting untuk pernafasannya. Di area dengan banyak ketam kenari, beberapa ketam juga keluar waktu siang hari, mungkin untuk mendapat keuntungan dalam mencari makan. Ketam kenari juga kadang-kadang keluar waktu siang jika keadaan lembab atau hujan, karena keadaan ini memudahkan mereka untuk bernafas. Mereka hanya ditemukan di darat, dan beberapa dapat ditemui sejauh 6 km dari lautan.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketam kenari hidup di areal dari samudera <a title="Hindia" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Hindia">Hindia</a> hingga samudera <a title="Pasifik" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pasifik">Pasifik</a> tengah. <a title="Pulau Christmas" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pulau_Christmas">Pulau Christmas</a> di samudera Hindia mempunyai populasi ketam kenari terbesar dan paling lestari di dunia. Populasi samudera Hindia lain ada di <a title="Seychelles" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Seychelles">Seychelles</a>, terutama <a title="Aldabra (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Aldabra&amp;action=edit&amp;redlink=1">Aldabra</a>, <a title="Kepulauan Glorioso" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kepulauan_Glorioso">kepulauan Glorioso</a>, pulau Astove, pulau Assumption dan <a title="Cosmeldo (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Cosmeldo&amp;action=edit&amp;redlink=1">Cosmeldo</a>, namun pada pulau-pulau ditengah ketam kenari punah. Mereka juga ada di beberapa pulau di kepulauan <a title="Andaman" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Andaman">Andaman</a> dan <a title="Nicobar" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Nicobar">Nicobar</a> di <a title="Teluk Benggala" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Teluk_Benggala">teluk Benggala</a>. Dalam jumlah besar, mereka juga ada di kepulauan Chagos milik Inggris, yang juga dikenal sebagai Teritori Samudera Hindia Inggris. Mereka dilindungi di pulau-pulau ini dari perburuan dan dimakan, dengan denda hingga 1500 poundsterling tiap ketam yang dikonsumsi. Di <a title="Mauritius" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Mauritius">Mauritius</a> dan <a title="Rodrigues (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Rodrigues&amp;action=edit&amp;redlink=1">Rodrigues</a> mereka punah.</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li><strong>Resume :</strong></li>
</ul>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketam kenari</strong>, <strong><em>Birgus latro</em></strong>, atau disebut <em>Kepiting Kelapa</em> merupakan <a title="Arthropoda" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Arthropoda">artropoda</a> darat terbesar di dunia. Meskipun disebut ketam/kepiting, hewan ini bukanlah ketam/kepiting. Ketam ini merupakan jenis <a title="Umang-umang (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Umang-umang&amp;action=edit&amp;redlink=1">umang-umang</a> yang sangat maju dalam hal evolusi.Beratnya mencapai 4 kg, panjang tubuh hingga 40 cm dan bentangan kaki sekitar 200 cm, dan hewan jantan umumnya lebih besar daripada betina. Hal itu dipercaya mendekati batas teoritis untuk artropoda darat. Umurnya dapat mencapai 30-60 tahun. Tubuh ketam kenari dibagi menjadi bagian depan (kepala-dada atau <a title="Sefalotoraks (belum dibuat)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sefalotoraks&amp;action=edit&amp;redlink=1">sefalotoraks</a>), dengan 10 <a title="Kaki" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kaki">kaki</a>, dan <a title="Abdomen" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abdomen">abdomen</a> (perut). Kecuali sebagai <a title="Larva" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Larva">larva</a>, ketam kenari tidak berenang bahkan spesimen kecil akan tenggelam dalam air. Mereka menggunakan organ khusus yang disebut paru-paru branchiostegal untuk bernafas. Ketam kenari kawin secara berulangkali dan cepat di daratan kering pada periode dari Mei sampai September, khususnya Juli dan Agustus. Ketam jantan dan betina berkelahi satu sama lain, lalu yang jantan berbalik ke punggung betina untuk kawin. Seluruh proses perkawinan berlangsung sekitar 15 menit. Tidak lama kemudian, betina bertelur dan melekatkannya dibawah perutnya, membawa telur-telur yang telah dibuahi itu selama beberapa bulan. Bila tiba waktu telur-telur itu menetas, biasanya bulan Oktober atau November, ketam kenari betina melepaskan telur-telur tersebut ke lautan pada saat <a title="Pasang surut" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Pasang_surut">pasang naik</a>. Makanan ketam kenari terutama terdiri dari <a title="Buah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Buah">buah</a>, termasuk kelapa dan beringin. Tetapi, mereka akan memakan hampir semua yang organik, seperti <a title="Daun" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Daun">daun</a>, buah busuk, telur <a title="Penyu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Penyu">penyu</a>, hewan mati, dan cangkang hewan lain, yang dipercaya menyediakan <a title="Kalsium" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kalsium">kalsium</a>. Ketam kenari hidup sendiri dibawah tanah atau celah-celah bebatuan, tergantung daerah setempat. Mereka menggali tempat bersembunyi di pasir atau tanah gembur. Di siang hari, ketam kenari bersembunyi, untuk berlindung dan mengurangi hilangnya air karena panas. Di tempat persembunyiannya terdapat serat sabut kelapa yang kuat nan halus. Mereka hanya ditemukan di darat, dan beberapa dapat ditemui sejauh 6 km dari lautan.</p>
<p style="text-align:justify;">Daftar Referensi</p>
<ul style="text-align:justify;">
<li>Altevogt, R. &amp; Davis, T.A. (1975): <em>Birgus latro</em>: India&#8217;s monstrous crab. A study and an appeal. <em>Bulletin of the Department of Marine Sciences, University of Cochin.</em></li>
<li>Barnett, L.K.; Emms, C. &amp; Clarke, D. (1999): The coconut or robber crab (<em>Birgus latro</em>) in the Chagos Archipelago and its captive culture at London Zoo. <em>In:</em> Sheppard, C.R.C. &amp; Seaward, M.R.D. (eds): Ecology of the Chagos Archipelago: 273–284. <em>Linnean Society Occasional Publications</em> <strong>2</strong>.</li>
<li>Combs, C.A.N.; Alford, A.; Boynton, M. &amp; Henry, R.P. (1992): Behavioural regulation of haemolymph osmolarity through selective drinking in land crabs, <em>Birgus latro</em> and <em>Gecarcoidea lalandii</em>. <em>Biological Bulletin</em> <strong>182</strong>(3): 416-423. <a title="http://www.biolbull.org/cgi/reprint/182/3/416.pdf" href="http://www.biolbull.org/cgi/reprint/182/3/416.pdf">PDF fulltext</a></li>
<li>Eldredge, L.O. (1996). <a title="http://www.iucnredlist.org/search/details.php/2811/all" href="http://www.iucnredlist.org/search/details.php/2811/all"><em>Birgus latro</em></a>. <em>2006 <a title="IUCN Red List" href="http://id.wikipedia.org/wiki/IUCN_Red_List">IUCN Red List of Threatened Species</a></em>. <a title="World Conservation Union" href="http://id.wikipedia.org/wiki/World_Conservation_Union">IUCN</a> 2006. Diakses 12 May 2006.</li>
<li><a href="http://www.flickr.com/photos/bluebec/340613817/" rel="nofollow">http://www.flickr.com/photos/bluebec/340613817/</a></li>
</ul>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/blueseafer.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/blueseafer.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/blueseafer.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/blueseafer.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/blueseafer.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/blueseafer.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/blueseafer.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/blueseafer.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/blueseafer.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/blueseafer.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/blueseafer.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/blueseafer.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/blueseafer.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/blueseafer.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=blueseafer.wordpress.com&amp;blog=10948592&amp;post=3&amp;subd=blueseafer&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blueseafer.wordpress.com/2009/12/16/ketam-kenari/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b5b198057ec1cd5c5ef13ceb743fe33c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">blueseafer</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://blueseafer.files.wordpress.com/2009/12/300px-robber_crab1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">300px-Robber_crab</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
